Puisi di era musik indie

Aku tak ingin menangis. Menahan gerimis. Di sepanjang lorong itu aku tak punya nyali.

Anjir benar lirik di atas. Padat kata namun bernas. Sungguh Jason bukan hanya penyanyi fenomenal. Dia juga penyair nakal.

Lahir di kala Orde Baru masih mengkangkangi Indonesia, daku seorang yang suka baca majalah. Bobo, Mentari Putera Harapan, hingga Pembina Pramuka kulahap. Apa yang dicari? Salah satunya kolom puisi.

Apa kabar anak digital, yang katanya bisa menghasilkan uang di atas bantal?

Rasa-rasanya puisi harus bertransformasi. Dulu Kantata Takwa sekarang Jason Ranti.

Jason Ranti adalah penyanyi indie yang sakti. Sekilas mukanya rada mirip Che Guevarra dari Amerika Latin.

Ia gondrong dan pandai bikin lirik songong. Tak percaya, cerna saja lagu-lagunya. Kuambil gelek sebatang contohnya. Atau Hidup Hanya Numpang Ketawa.

Semoga saja banyak yang seperti ini. Ia kujejalkan di playlist bersanding dengan fortwnty dan Letto. Menikmati puisi dari kacamata musik indie.

Senja-senja tai anjing. Kopi mahal sahabat para borjuis dan hiperbola fenomena hujan yang sebenarnya biasa saja sudah muak aku baca.

Jeje akan terus berkarya. Ia mungkin bisa meroket dan terkenal atau lenyap dari hingar bingar. Tapi puisi harus tetap hidup.

Daripada ngedengerin tetangga sialan yang nyetel dangdutan tiap hari atau ketika hajatan dengan salon raksasa yang bikin kuping pedih, memang mending dengerin bapak-bapak gondrong yang wajah imutnya bikin gadis melolong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s