Menetapkan Tujuan Menulis

Menetapkan tujuan menulis
Tentukan Tujuan Sebelum Menulis

Semua pasti memiliki tujuan. Keberadaanmu di tempat saat ini dikau berada, nama yang diberikan oleh seorang ayah pada anaknya hingga tampilan iklan sebuah produk. Semua memiliki sesuatu untuk dituju. Setidaknya latar belakang.
Begitupula dengan sebuah tulisan.

Ada tulisan yang bertujuan untuk mencurahkan emosi, karena luapannya begitu pedih untuk keluar melalui kerongkongan atau mulut. Maka tulisan menjadi solusi. Kegetiran dan kisah pilu yang dituturkan melalui tangan yang menari di atas tuts komputer maupun kertas, akhirnya bertujuan untuk sebuah kelepasan.

Ada juga tulisan yang lahir karena kegelisahaan penulis. Ia resah dan galau melihat bangsanya diperbodoh ketololan. Penyembahan pada politik yang begitu massif membuatnya gatal untuk mengedukasi. Ia kritik semuanya, baik lewat sastra maupun jurnalistik. Inilah argumen, atau opini. Bisa juga mengambil bentuk yang lebih halus, semacam cerpen atau novel. Halus tetapi daya ledaknya malah makin dahsyat. Coba tengok sejarah Filipina. Bangsa itu lahir dari perjuangan hebat yang diawali sebuah cerpen. Iya, cerpen.

Selain tujuan yang serius-serius, kadang kita juga butuh menulis untuk iseng. Setidaknya belajar menajamkan pikiran atau memenuhi nazar bedisiplin pada komitmen. Aku menulis setiap hari. Targetku di akhir tahun ini, ada 200 postingan yang tayang melalui Adi Notes.

Tidak perlu panjang, menulis bisa sangat pendek. Sebuah surat berisi dua kalimat, bisa saja mencapai tujuannya : membuat marah pembacanya. Sebuah pronomina disandingkan dengan nama hewan. ‘Kau Anjing’. Cukup singkat dan efektif untuk memulai baku hantam.

Lantas apa tujuan dari tulisan ini. Banyak. Membunuh waktu adalah yang utama. Aku menghindari bengong atau melamun mengenai tumbangnya kapitalisme. Aku juga tak mau mengisi pikiran melulu dengan cara meniduri banyak wanita cantik. Itu semua imajinasi tak berguna. Menuangkan dalam tulisan jauh lebih bermanfaat sekaligus bermartabat.

Semua penulis punya martabat, namun kadang menggadaikannya hanya demi uang kontrak dari penjahat yang super jahat. Merobek persatuan masyarakat dan menanamkan rasa saling curiga melalui artikel klikbait dan kehebohan di media sosial. Penjahat laknat. Penulisnya jauh lebih bangsat.

Percayalah menulis itu menajamkan pikiran dan menjagamu tetap waras. Sebuah formula yang pernah aku singgung di tulisan sebelumnya.

Jadi bagaimana? Sudah mulai ingin menulis? Pertama tentu tetapkan tujuan. Menulis tanpa tujuan juga bisa. Konon, itu teknik yang pernah dipakai para penyair purba. Sialan sekali teknik macam itu bisa menghasilkan karya tak lekang oleh waktu.

Mau mencobanya? Bisa saja, namun tetap kau butuh kata-kata untuk dibuncahkan. Dan kecuali kau mabuk, tentu kau perlu berpikir untuk memilih kata sebelum ditulis, bukan? Itulah tujuan!

Tujuan adalah awal, sebuah alfa yang melahirkan semesta imaji, mengejewantahkan nalar menjadi sesuatu yang bisa dibaca. Itulah transfer pemikiran. Hanya manusia yang bisa. Andai komodo bisa melakukanya, kita sudah lama punah, menyusul burung dodo, harimau jawa atau dinosaurus.

Lain kali akan kubagikan tips menyusun tujuan, sebelum kau melahirkan karya tulismu. Namun saat ini mari meracau bersama, membuktikan bahwa melantur lewat tulisan itu mudah. Coba tebak apa ide utama dari postingan yang kau baca sekarang ini?

Ya, cuma satu. Mengingatkan kalau tujuan itu penting. Sebuah pemikiran sederhana yang ternyata tak habis di bahas dalam sepuluh paragraf. Oh iya lupa, menulis di WordPress itu nikmat. Kau tak perlu mengedit html dan CSS. Jadi paragrafmu renggang dan lega. Enak dicumbu mata pembacamu.

Apa maksudnya? Kalau menulis di Blogspot, kau akan kesusahan dan terus konsisten menjaga paragraf tetap pendek. Tetapi di WordPress, kau bisa bikin sedikit lebih panjang.

Iya, sedikit saja. Kalau terlalu panjang kasihan pacarmu. Ah rasis dan fetish. Gaya khas penyair pria. Seronoknya gak asik. Tapi satu hal bisikku, bodo amat.

Dulu bu guru Bahasa Inggris dan Indonesia mengajarkanmu induksi dan deduksi. Meletakkan pokok masalah di awal atau akhir. Itu bagus, tetapi pada akhirnya menulis tidak seremeh itu. Namun juga tidak sulit. Ingin bisa menulis, ikuti terus blog ini. Setidak-tidaknya tulisanmu akan meningkat beberapa tingkat seperti punyaku. Atau jika kau anggap tulisanku buruk, setidaknya kau punya bahan untuk mengejek.

Mengejek juga perlu bahan bro. Namun pastikan ejekanmu tak membawamu ke dalam masalah besar. Atau jangan-jangan itu yang kau inginkan? Wow, jika demikian, kau akan menjadi penulis hebat.