Resolusi 2020 : berlatih menulis tulisan genre flash-fiction
Menulis Genre Flashfiction
Salah satu resolusiku untuk tahun 2020 adalah mempelajari skill menulis flash fiction atau cerita mini.
Walau belum ada ketentuan baku mengenai berapa jumlah kata sebuah karangan hingga sah disebut flash fiction, tak masalah bagiku.
Flash fiction terlihat menarik karena ini menantang diriku untuk memampatkan elemen yang ada hingga benar-benar padat. Namun tetap menarik.
Sepanjang tahun 2019, ada ratusan artikel, cerpen, advertorial dan lainnya yang sempat kutulis. Namun aku juga mencoba membuat dan menggubah riddle. Dari sanalah aku makin percaya diri untuk mempelajari flash fiction.
Menulis adalah sebuah perjalanan, dari satu lembar kehidupan menuju lembar lainnya.
Menulislah selagi bisa
Menulis itu mudah, namun membuat tulisan yang bagus itu tak akan pernah mudah.
Adi
Sudah banyak yang berubah sejak saya meninggalkan WordPress beberapa tahun lalu. Ya, saya memang seorang petualang. Mengawali menulis di Friendster, lalu Blogspot, WordPress, Wix, Medium, Weebly, Blogspot lagi, Facebook, akhirnya mencoba kembali menjajal WP. Belum termasuk beberapa blockchain, autogenerated dan media (massa) elektronik.
Ada banyak hal yang luar biasa di sini. Berbagai perubahan mendasar dan fundamental yang membuat saya mau tak mau harus belajar lagi. Bukan, ini bukan tentang SEO atau bagaimana-cara-membuat-gambar-yang-menarik. Ini tentang struktur dan fitur yang ada di wordpress. Hebat, lengkap namun sedikit membingungkan.
Semua memang berubah dan harus berubah. Sayapun berubah. Begitupula Anda. Di sadari atau tidak perubahan adalah hal yang paling absolut di alam semesta ini.
Lantas kenapa saya harus membuang waktu dan tenaga untuk membuat satu blog lagi?
Tentu saja karena ada alasannya. Namun satu yang paling utama, saya butuh tempat untuk menyimpang ide, milestones, dan progress menulis saya.
Facebook sudah terlalu fokus pada bisnis. Quora menghapus fitur blog. Medium masih untuk penutur bahasa Inggris. Sedang Blogspot dan Tumblr sudah saya gunakan untuk tujuan lain. Maka akhirnya saya memilih platform ini, Adi’s Blog dengan alamat Adinotes.home.blog.
Sebenarnya tidak terlalu SEO, namun sekali lagi ini bukan tentang menulis untuk trafik. Maka nama apapun tak masalah. Dan url domain itu saya rasa juga tak buruk.
Di pos pertama ini, saya tulis sambil menenggak Red Bull, sekaleng minuman lunak yang harganya cukup bikin geleng-geleng untuk seorang penulis berkasta proletar macam saya.
Namun menulis itu memang tak pernah mudah, apalagi jika ingin menghasilkan tulisan yang bagus. Ada yang butuh kopi, rokok, wanita, atau kombinasi dari semuanya itu.
Semoga blog ini tidak terlantar seperti beberapa blog lainnya. Saya tak ingin mengumbar optimisme, terlebih dengan semua perubahan dari WP. Walau begitu, ini adalah tantangan agar tangan makin terlatih dan otak makin tajam dalam merangkai kata demi kata.