Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Apakah Harus Pensiun Ngeblog?

Kehidupan emang beneran misterius ya. Awalnya sudah punya rencana mau serius bisnis blog, eh ga taunya sekarang berat banget.


Bahkan kayaknya mau pensiun. Tenang, bukan pensiun sepenuhnya. Daku ga bisa bakalan pensiun nulis atau ngeblog. Tapi ga akan fokus kaya dulu lagi ngurus blog for money.

Ada banyak alasan kenapa aku beneran harus pensiun sementara alias hiatus dari dunia per-Adsense-an atau per-content placement-an. Beberapa adalah ini :

  • Saingan makin banyak. Bukan dengan sesama blogger ya. Tapi musuh korporat mantan koran yg sekarang kesurupan jadi media online.
  • Adsense makin ngaco. Pendapatan turun drastis.
  • Susah index sih biasa tapi kegeser dari top 1 page 1 ke pege 3 itu yang bikin sakit. Kayaknya SEO sekarang udah berubah banyak. Harus main ads kalau masih mau dapat gaji umr bulanan dari adsense, baik itu MGID maupun GA.
  • Ini yang paling utama, kerjaan di real life juga lagi edan-edannya. Numpuk. Beruntung juga sih di kala yang lain dipecat atau mengalami pengurangan pendapatan, daku malah bertambah. Tapi ya gitu, no pain no gain. Maksudnya? Effort-nya itu loh beneran nguras tenaga dan pikiran. Tapi karena earning dari sisi ini lebih pasti ketimbang blog, ya fokus aja di sini.
  • Banyak proyek tambahan. Ini masih terkait poin yang di atas. Kenapa daku lebih berat ke sini? Karena potensi cuan lebih besar dari Adsense.
  • Penulis bayaran jelek semua. Kenapa ya kok ga jodoh banget sama penulis bangus. Sebenarnya ada sih satu yg cukup bagus tapi ga bakal kuat kalo ga handdle sendiri juga karena pasti harus tetap daku poles agar artikelnya tetep se-frekuensi sama blog aku.

Padahal kalo kalian tahu ya, awal Januari aku sudah bikin plans bagus banget buat ningkatin trafik, skor Alexa, sama SERP. Tapi kayaknya ga bakalan kerealisasi sich , secara 1 jam cuma ada 24 jam.

Meski begitu aku bakalan tetap ngeblog, entah di facebook atau wordpress gretongan ini. Iya ga ada duitnya emang.

Kalo aku lihat-lihat lagi ini cuma tentang skala prioritas.

Saat ini bukan blog yang aku kejar. Tapi aku sudah susun dan buat fondasi yang baik dengan belasan blog yang aku sudah bangun bertahun-tahun. Tentu itu sebuah keuntungan tersendiri.

Aku justru punya insting jangan-jangan blog-blog ini akan main secara auto-pilot. Kenapa? Karena strukturnya udah bagus banget, termasuk banyaknya backlink sukarela berkualitas.

Anehnya ya itu : pendapatan kok turun. Turun drastis malah.

Ya moga aja Google lagi masuk ngain jadi nanti kalo sembuh artikel dan kontenku di blog-blogku bisa naik.

Sementara berharap menunggu hal itu, aku akan fokus pada real life ya. Apalagi duitnya lebih gede dan lebih pasti.

Kalo kamu gimana gaes?

Kecewa (Setelah) Beli Artikel

Berawal dari kesulitan menulis rutin untuk sekian puluh blog, daku berinisiatif membeli artikel dari teman-teman

Para penyedia jasa artikel memang bukan hal yang baru.

Di Facebook atau marketplace, banyak penulis yang menjajakan artikelnya. Aku juga pernah menekuni bisnis ini.

Menulis memang asyik tapi kalau tujuannya adalah duit, maka harus pintar-pintar mengelola waktu, tenaga dan pikiran. Termasuk modal.

Jujur dari semua penyedia jasa artikel yang aku coba, tidak ada yang memuaskan.

Baru kemaren nemu satu yang cukup bagus dan potensial. Semoga jodoh sama beliau.

Lainnya?

Maaf, tapi payah banget! Entah buku SEO karangan siapa yang mereka baca tapi hasilnya fatal. Jelek pake parah! Cuma pesen sekali sesudah itu cukup.

Daku bukan tipe orang yang suka langsung bilang, “Tuan tulisanmu buruk! Tidak bisakah kau membedakan awalan di untuk kata kerja dan di dengan keterangan waktu/tempat?”

Daku biasanya hanya berterima kasih dan ga bakalan kontak lagi. Jika ada blogger/korporat yang tanya? Ya ga bakalan aku rekomendasikan ke mereka.

Untuk para penulis, jika memang sudah buka jasa dan menetapkan harga, maka seriuslah.

Apa kalian tidak mau ada repeat order? Mau, khan?

Lantas apa yang membuat daku sebal dengan mereka? Mau tahu? Oke ini beberapa diantaranya :

  • Menetapkan deadline sendiri (ingat mereka sendiri yang menetapkan deadline) tapi dilanggar sendiri. Alasannya sungguh merendahkan : ada banyak order. Lha kenapa elu terima, Mukidal?
  • Tulisan tipo parah. Bahkan judul dan sub-judul juga tipo.
  • Masih soal teknik dasar. Banyak yang salah dalam hal PUEBI, contoh penggunaan imbuhan.
  • Malas riset.
  • Pengulangan berulang kali. Apakah ini demi memenuhi jumlah kata?
  • Ga paham cara menulis yang sistematis. Harusnya kalau pake logika deduksi ya deduksi terus. Jangan loncat-loncat kaya kucing garong.
  • SEO? SEO darimana? Keyword density jelek banget. LSI juga kacau. Ga pake sinonim, kata kunci turunan, dll.
  • Banyak kata/frasa/kalimat yang harusnya ga perlu ada.
  • Diksi-nya mengerikan. Tulisan bener-bener ga hidup.

Overall jelek banget, baik untuk robot apalagi manusia.

Satu yang bikin daku heran, ketika daku searching blog ataupun tulisan mereka yang lain, ada yang bagus kok.

Gua jadi mikir : kok anying bener ni orang!

Akhirnya ada empat hipotesa yang daku buat :

  • Mereka beli artikel yang bagus buat blognya. Kuwang ajhar dong kalo beneran.
  • Kalo buat diri sendiri dibagusin, kalo orderan dikerjain sepenuh hati. Wah ga bakalan sukses antum!
  • Mereka berkepribadian ganda. Ato kesurupan. Jadi kadang bisa nulis bagus.
  • Sindikat. Mereka lempar order ke penulis lain yang kualifikasinya lebih jelek.

Akhirul kata: gua trauma. Tinggal satu stok penjual artikel yang bakalan gua keep dan semoga bisa memuaskan.

Kalo kamu gimana? Punya pengalaman serupa?