Feed Blog

Istimewa

Penulis Petualang

Menulis adalah sebuah perjalanan, dari satu lembar kehidupan menuju lembar lainnya.

Menulislah selagi bisa

Menulis itu mudah, namun membuat tulisan yang bagus itu tak akan pernah mudah.

Adi

Sudah banyak yang berubah sejak saya meninggalkan WordPress beberapa tahun lalu. Ya, saya memang seorang petualang. Mengawali menulis di Friendster, lalu Blogspot, WordPress, Wix, Medium, Weebly, Blogspot lagi, Facebook, akhirnya mencoba kembali menjajal WP. Belum termasuk beberapa blockchain, autogenerated dan media (massa) elektronik.

Ada banyak hal yang luar biasa di sini. Berbagai perubahan mendasar dan fundamental yang membuat saya mau tak mau harus belajar lagi. Bukan, ini bukan tentang SEO atau bagaimana-cara-membuat-gambar-yang-menarik. Ini tentang struktur dan fitur yang ada di wordpress. Hebat, lengkap namun sedikit membingungkan.

Semua memang berubah dan harus berubah. Sayapun berubah. Begitupula Anda. Di sadari atau tidak perubahan adalah hal yang paling absolut di alam semesta ini.

Lantas kenapa saya harus membuang waktu dan tenaga untuk membuat satu blog lagi?

Tentu saja karena ada alasannya. Namun satu yang paling utama, saya butuh tempat untuk menyimpang ide, milestones, dan progress menulis saya.

Facebook sudah terlalu fokus pada bisnis. Quora menghapus fitur blog. Medium masih untuk penutur bahasa Inggris. Sedang Blogspot dan Tumblr sudah saya gunakan untuk tujuan lain. Maka akhirnya saya memilih platform ini, Adi’s Blog dengan alamat Adinotes.home.blog.

Sebenarnya tidak terlalu SEO, namun sekali lagi ini bukan tentang menulis untuk trafik. Maka nama apapun tak masalah. Dan url domain itu saya rasa juga tak buruk.

Di pos pertama ini, saya tulis sambil menenggak Red Bull, sekaleng minuman lunak yang harganya cukup bikin geleng-geleng untuk seorang penulis berkasta proletar macam saya.

Namun menulis itu memang tak pernah mudah, apalagi jika ingin menghasilkan tulisan yang bagus. Ada yang butuh kopi, rokok, wanita, atau kombinasi dari semuanya itu.

Semoga blog ini tidak terlantar seperti beberapa blog lainnya. Saya tak ingin mengumbar optimisme, terlebih dengan semua perubahan dari WP. Walau begitu, ini adalah tantangan agar tangan makin terlatih dan otak makin tajam dalam merangkai kata demi kata.

Adi.

Semoga bermanfaat.


			

Apakah Harus Pensiun Ngeblog?

Kehidupan emang beneran misterius ya. Awalnya sudah punya rencana mau serius bisnis blog, eh ga taunya sekarang berat banget.


Bahkan kayaknya mau pensiun. Tenang, bukan pensiun sepenuhnya. Daku ga bisa bakalan pensiun nulis atau ngeblog. Tapi ga akan fokus kaya dulu lagi ngurus blog for money.

Ada banyak alasan kenapa aku beneran harus pensiun sementara alias hiatus dari dunia per-Adsense-an atau per-content placement-an. Beberapa adalah ini :

  • Saingan makin banyak. Bukan dengan sesama blogger ya. Tapi musuh korporat mantan koran yg sekarang kesurupan jadi media online.
  • Adsense makin ngaco. Pendapatan turun drastis.
  • Susah index sih biasa tapi kegeser dari top 1 page 1 ke pege 3 itu yang bikin sakit. Kayaknya SEO sekarang udah berubah banyak. Harus main ads kalau masih mau dapat gaji umr bulanan dari adsense, baik itu MGID maupun GA.
  • Ini yang paling utama, kerjaan di real life juga lagi edan-edannya. Numpuk. Beruntung juga sih di kala yang lain dipecat atau mengalami pengurangan pendapatan, daku malah bertambah. Tapi ya gitu, no pain no gain. Maksudnya? Effort-nya itu loh beneran nguras tenaga dan pikiran. Tapi karena earning dari sisi ini lebih pasti ketimbang blog, ya fokus aja di sini.
  • Banyak proyek tambahan. Ini masih terkait poin yang di atas. Kenapa daku lebih berat ke sini? Karena potensi cuan lebih besar dari Adsense.
  • Penulis bayaran jelek semua. Kenapa ya kok ga jodoh banget sama penulis bangus. Sebenarnya ada sih satu yg cukup bagus tapi ga bakal kuat kalo ga handdle sendiri juga karena pasti harus tetap daku poles agar artikelnya tetep se-frekuensi sama blog aku.

Padahal kalo kalian tahu ya, awal Januari aku sudah bikin plans bagus banget buat ningkatin trafik, skor Alexa, sama SERP. Tapi kayaknya ga bakalan kerealisasi sich , secara 1 jam cuma ada 24 jam.

Meski begitu aku bakalan tetap ngeblog, entah di facebook atau wordpress gretongan ini. Iya ga ada duitnya emang.

Kalo aku lihat-lihat lagi ini cuma tentang skala prioritas.

Saat ini bukan blog yang aku kejar. Tapi aku sudah susun dan buat fondasi yang baik dengan belasan blog yang aku sudah bangun bertahun-tahun. Tentu itu sebuah keuntungan tersendiri.

Aku justru punya insting jangan-jangan blog-blog ini akan main secara auto-pilot. Kenapa? Karena strukturnya udah bagus banget, termasuk banyaknya backlink sukarela berkualitas.

Anehnya ya itu : pendapatan kok turun. Turun drastis malah.

Ya moga aja Google lagi masuk ngain jadi nanti kalo sembuh artikel dan kontenku di blog-blogku bisa naik.

Sementara berharap menunggu hal itu, aku akan fokus pada real life ya. Apalagi duitnya lebih gede dan lebih pasti.

Kalo kamu gimana gaes?

Kecewa (Setelah) Beli Artikel

Berawal dari kesulitan menulis rutin untuk sekian puluh blog, daku berinisiatif membeli artikel dari teman-teman

Para penyedia jasa artikel memang bukan hal yang baru.

Di Facebook atau marketplace, banyak penulis yang menjajakan artikelnya. Aku juga pernah menekuni bisnis ini.

Menulis memang asyik tapi kalau tujuannya adalah duit, maka harus pintar-pintar mengelola waktu, tenaga dan pikiran. Termasuk modal.

Jujur dari semua penyedia jasa artikel yang aku coba, tidak ada yang memuaskan.

Baru kemaren nemu satu yang cukup bagus dan potensial. Semoga jodoh sama beliau.

Lainnya?

Maaf, tapi payah banget! Entah buku SEO karangan siapa yang mereka baca tapi hasilnya fatal. Jelek pake parah! Cuma pesen sekali sesudah itu cukup.

Daku bukan tipe orang yang suka langsung bilang, “Tuan tulisanmu buruk! Tidak bisakah kau membedakan awalan di untuk kata kerja dan di dengan keterangan waktu/tempat?”

Daku biasanya hanya berterima kasih dan ga bakalan kontak lagi. Jika ada blogger/korporat yang tanya? Ya ga bakalan aku rekomendasikan ke mereka.

Untuk para penulis, jika memang sudah buka jasa dan menetapkan harga, maka seriuslah.

Apa kalian tidak mau ada repeat order? Mau, khan?

Lantas apa yang membuat daku sebal dengan mereka? Mau tahu? Oke ini beberapa diantaranya :

  • Menetapkan deadline sendiri (ingat mereka sendiri yang menetapkan deadline) tapi dilanggar sendiri. Alasannya sungguh merendahkan : ada banyak order. Lha kenapa elu terima, Mukidal?
  • Tulisan tipo parah. Bahkan judul dan sub-judul juga tipo.
  • Masih soal teknik dasar. Banyak yang salah dalam hal PUEBI, contoh penggunaan imbuhan.
  • Malas riset.
  • Pengulangan berulang kali. Apakah ini demi memenuhi jumlah kata?
  • Ga paham cara menulis yang sistematis. Harusnya kalau pake logika deduksi ya deduksi terus. Jangan loncat-loncat kaya kucing garong.
  • SEO? SEO darimana? Keyword density jelek banget. LSI juga kacau. Ga pake sinonim, kata kunci turunan, dll.
  • Banyak kata/frasa/kalimat yang harusnya ga perlu ada.
  • Diksi-nya mengerikan. Tulisan bener-bener ga hidup.

Overall jelek banget, baik untuk robot apalagi manusia.

Satu yang bikin daku heran, ketika daku searching blog ataupun tulisan mereka yang lain, ada yang bagus kok.

Gua jadi mikir : kok anying bener ni orang!

Akhirnya ada empat hipotesa yang daku buat :

  • Mereka beli artikel yang bagus buat blognya. Kuwang ajhar dong kalo beneran.
  • Kalo buat diri sendiri dibagusin, kalo orderan dikerjain sepenuh hati. Wah ga bakalan sukses antum!
  • Mereka berkepribadian ganda. Ato kesurupan. Jadi kadang bisa nulis bagus.
  • Sindikat. Mereka lempar order ke penulis lain yang kualifikasinya lebih jelek.

Akhirul kata: gua trauma. Tinggal satu stok penjual artikel yang bakalan gua keep dan semoga bisa memuaskan.

Kalo kamu gimana? Punya pengalaman serupa?

Kebodohan yang Tidak Perlu

Banyak kebodohan maksimal yang sebenarnya bisa tidak dilakukan di negeri 62 ini.

Menerobos lampu lalu lintas, melawan arus atau menjadi bebal.

Salah satu contoh orang bebal adalah merela yang tidak menghargai orang lain.

Aku rutin ke rumah sakit untuk mengantar ayahku cuci darah. Banyak perilaku bebal masyarakat negeri ini yang memuakkan. Menyetel youtube keras-keras di kamar rawat inap atau cuci darah adalah hal yang biasa.

Semua merasa punya hak untuk berisik. Otak dan hati mereka belum layak menggunakan teknologi.

Telinga mereka sudah tersumpal dan tentu saja ini menandakan bahwa mereka insan yang bodoh.

Sibuk Bikin Puisi

Maaf, saya sedang sibuk bikin puisi. Politiknya nanti saja.

Sajak itu memperkecil jarak. Puisi itu mengobati nurani. Mengusir sepi. Tapi tak bisa mengusir lapar.

Adi

Ada berita apa hari ini? Hidup yang semakin pelik? Akrobat politik. Atau perselingkuhan para artis demi upaya menaikkan trafik? Ah, tai.

Sibuk berbahagia dan bikin puisi

Semuanya bikin hati tambah susah. Pikiran panas dan badan gampang sakit. Maka dari itu saya saranken untuk jauh-jauh dengan media. Bahkan kamu yang kerja di sana. Jalani hidup seperti boker. Fokus pada apa yang harus dilakukan. Setelah itu flush……. lega!

Inilah salah satu kebajikan yang luput dari pandangan para motivator. Jangan kepo maksimal. Hiduplah secara minimal. Jangan sampaibada waktu luang. Kalau ada mending tidur. Bisa ngimpi ketemu Dian Sastro. Lumayan.

Atau pilih lakukan hal berguna lainnya. Menulis puisi misalnya. Lumayan bikn otak mikir bareng-bareng sama hati. Biasanya dua entinitas itu jalan sendiri-sendiri.

Lalu bagaimana? Apa kabar dengan kemampuan? Gampang, tulis aja yang dipikirkan. Kalau jelek ya diedit. Butuh inspirasi, baca deh banyak kok contoh puisi yang keren.

Ulang Tahun Ibu

Selamat ulang tahun ibu.

Ibu adalah kitab suci yang menuntunku percaya keberadaan Tuhan

Adi

Hari ini ibuku ulang tahun. Aku justru tahu dari adikku. Anak macam apa aku ini. Sudah yang paling sulung namun paling tidak berprestasi.

Kuhela nafas. Uang tinggal sedikit, untuk biaya hidup juga pas-pasan. Tapi ibu wajib diberi hadiah. Setidaknya untuk membuatnya tersenyum.

Kubuka celengan khusus, hasil dari salah satu cabang aku mengais rejeki. Beberapa lembar kuambil dan kutambah dari dompet pribadi. Kumasukkan amplop. Semoga semesta meridhoi usahaku. Kutulis selembar kertas pertanda selamat dan maaf belum bisa jadi orang sukses.

Ibu adalah hadiah dari Tuhan. Sampai saat ini aku belum berjumpa Yahwe atau melihat Yesus, namun aku bisa melihat ibu dan bertemu dengannya setiap saat. Dari sana aku percaya Tuhan itu ada. Yahwe itu nyata. Dan Yesus itu sungguhan.

Terima kasih Tuhan sudah memberiku hadiah indah berupa ibu yang baik. Ada banyak bunda terkutuk yang bisa melahirkan tapi langsung membunuh bayinya. Atau menelantarkan mereka dengan sejuta pembenaran. Ibuku miskin harta tapi hatinya lebih indah dari emas Baginda Sulaiman.

Ia mengajarku seperti Imam Eli mengajar Samuel sebelum menjadi Imam Agung Bangsa Israel. Ia adalah kitab suci yang menuntunku pada benar dan salah boleh dan tidak. Walau tentu saja pengetahuannya terbatas dan sering juga tidak tepat.

Selamat ulang tahun ibu, dari anakmu yang belum sukses. Yang masih mencoba mengais rejeki dari menulis di wordpress.

Jadwal Tidur Kacau

Sudah tiga hari susah tidur. Terlalu keras bekerja?

Kerja Keras

Ada bahaya mengintaiku. Jadwal tidurku kacau. Post ini kutulis pukul 1.52 pagi. Damn!

Rasanya tidak ada rasa kantuk sama sekali. Padahal sedari siang cukup banyak aktifitas.

Ini hari ketiga aku susah tidur. Badan rasanya juga masih segar. Aduh. Apakah ini baik untuk tubuhku? Atau pertanda sedang ada yang salah?

10 Hal Yang Ingin Kubiasakan

Sebuah daftar yang entah bisa kupenuhi atau tidak.

Menjadi pribadi yang lebih baik

1. Menjadi pribadi yang lebih tenang.

2. Lebih keras bekerja.

3. Kurangi waktu scrolling socmed.

4. Rajin meditasi.

5. Lebih rutin olahraga.

6. Kurangi rebahan.

7. Jangan boros.

8. Rutin baca artikel bermanfaat.

9. Bekerja dengan target yang jelas.

10. Diet.

Bercinta (Kembali) Dengan Puisi lewat Jason Ranti

Jason Ranti, persetubuhan puisi dengan musik indie yang aduhai.

Puisi di era musik indie

Aku tak ingin menangis. Menahan gerimis. Di sepanjang lorong itu aku tak punya nyali.

Anjir benar lirik di atas. Padat kata namun bernas. Sungguh Jason bukan hanya penyanyi fenomenal. Dia juga penyair nakal.

Lahir di kala Orde Baru masih mengkangkangi Indonesia, daku seorang yang suka baca majalah. Bobo, Mentari Putera Harapan, hingga Pembina Pramuka kulahap. Apa yang dicari? Salah satunya kolom puisi.

Apa kabar anak digital, yang katanya bisa menghasilkan uang di atas bantal?

Rasa-rasanya puisi harus bertransformasi. Dulu Kantata Takwa sekarang Jason Ranti.

Jason Ranti adalah penyanyi indie yang sakti. Sekilas mukanya rada mirip Che Guevarra dari Amerika Latin.

Ia gondrong dan pandai bikin lirik songong. Tak percaya, cerna saja lagu-lagunya. Kuambil gelek sebatang contohnya. Atau Hidup Hanya Numpang Ketawa.

Semoga saja banyak yang seperti ini. Ia kujejalkan di playlist bersanding dengan fortwnty dan Letto. Menikmati puisi dari kacamata musik indie.

Senja-senja tai anjing. Kopi mahal sahabat para borjuis dan hiperbola fenomena hujan yang sebenarnya biasa saja sudah muak aku baca.

Jeje akan terus berkarya. Ia mungkin bisa meroket dan terkenal atau lenyap dari hingar bingar. Tapi puisi harus tetap hidup.

Daripada ngedengerin tetangga sialan yang nyetel dangdutan tiap hari atau ketika hajatan dengan salon raksasa yang bikin kuping pedih, memang mending dengerin bapak-bapak gondrong yang wajah imutnya bikin gadis melolong.

Menetapkan Tujuan Menulis

Sebelum menulis, pastikan anda tahu apa yang anda tulis.

Menetapkan tujuan menulis
Tentukan Tujuan Sebelum Menulis

Semua pasti memiliki tujuan. Keberadaanmu di tempat saat ini dikau berada, nama yang diberikan oleh seorang ayah pada anaknya hingga tampilan iklan sebuah produk. Semua memiliki sesuatu untuk dituju. Setidaknya latar belakang.
Begitupula dengan sebuah tulisan.

Ada tulisan yang bertujuan untuk mencurahkan emosi, karena luapannya begitu pedih untuk keluar melalui kerongkongan atau mulut. Maka tulisan menjadi solusi. Kegetiran dan kisah pilu yang dituturkan melalui tangan yang menari di atas tuts komputer maupun kertas, akhirnya bertujuan untuk sebuah kelepasan.

Ada juga tulisan yang lahir karena kegelisahaan penulis. Ia resah dan galau melihat bangsanya diperbodoh ketololan. Penyembahan pada politik yang begitu massif membuatnya gatal untuk mengedukasi. Ia kritik semuanya, baik lewat sastra maupun jurnalistik. Inilah argumen, atau opini. Bisa juga mengambil bentuk yang lebih halus, semacam cerpen atau novel. Halus tetapi daya ledaknya malah makin dahsyat. Coba tengok sejarah Filipina. Bangsa itu lahir dari perjuangan hebat yang diawali sebuah cerpen. Iya, cerpen.

Selain tujuan yang serius-serius, kadang kita juga butuh menulis untuk iseng. Setidaknya belajar menajamkan pikiran atau memenuhi nazar bedisiplin pada komitmen. Aku menulis setiap hari. Targetku di akhir tahun ini, ada 200 postingan yang tayang melalui Adi Notes.

Tidak perlu panjang, menulis bisa sangat pendek. Sebuah surat berisi dua kalimat, bisa saja mencapai tujuannya : membuat marah pembacanya. Sebuah pronomina disandingkan dengan nama hewan. ‘Kau Anjing’. Cukup singkat dan efektif untuk memulai baku hantam.

Lantas apa tujuan dari tulisan ini. Banyak. Membunuh waktu adalah yang utama. Aku menghindari bengong atau melamun mengenai tumbangnya kapitalisme. Aku juga tak mau mengisi pikiran melulu dengan cara meniduri banyak wanita cantik. Itu semua imajinasi tak berguna. Menuangkan dalam tulisan jauh lebih bermanfaat sekaligus bermartabat.

Semua penulis punya martabat, namun kadang menggadaikannya hanya demi uang kontrak dari penjahat yang super jahat. Merobek persatuan masyarakat dan menanamkan rasa saling curiga melalui artikel klikbait dan kehebohan di media sosial. Penjahat laknat. Penulisnya jauh lebih bangsat.

Percayalah menulis itu menajamkan pikiran dan menjagamu tetap waras. Sebuah formula yang pernah aku singgung di tulisan sebelumnya.

Jadi bagaimana? Sudah mulai ingin menulis? Pertama tentu tetapkan tujuan. Menulis tanpa tujuan juga bisa. Konon, itu teknik yang pernah dipakai para penyair purba. Sialan sekali teknik macam itu bisa menghasilkan karya tak lekang oleh waktu.

Mau mencobanya? Bisa saja, namun tetap kau butuh kata-kata untuk dibuncahkan. Dan kecuali kau mabuk, tentu kau perlu berpikir untuk memilih kata sebelum ditulis, bukan? Itulah tujuan!

Tujuan adalah awal, sebuah alfa yang melahirkan semesta imaji, mengejewantahkan nalar menjadi sesuatu yang bisa dibaca. Itulah transfer pemikiran. Hanya manusia yang bisa. Andai komodo bisa melakukanya, kita sudah lama punah, menyusul burung dodo, harimau jawa atau dinosaurus.

Lain kali akan kubagikan tips menyusun tujuan, sebelum kau melahirkan karya tulismu. Namun saat ini mari meracau bersama, membuktikan bahwa melantur lewat tulisan itu mudah. Coba tebak apa ide utama dari postingan yang kau baca sekarang ini?

Ya, cuma satu. Mengingatkan kalau tujuan itu penting. Sebuah pemikiran sederhana yang ternyata tak habis di bahas dalam sepuluh paragraf. Oh iya lupa, menulis di WordPress itu nikmat. Kau tak perlu mengedit html dan CSS. Jadi paragrafmu renggang dan lega. Enak dicumbu mata pembacamu.

Apa maksudnya? Kalau menulis di Blogspot, kau akan kesusahan dan terus konsisten menjaga paragraf tetap pendek. Tetapi di WordPress, kau bisa bikin sedikit lebih panjang.

Iya, sedikit saja. Kalau terlalu panjang kasihan pacarmu. Ah rasis dan fetish. Gaya khas penyair pria. Seronoknya gak asik. Tapi satu hal bisikku, bodo amat.

Dulu bu guru Bahasa Inggris dan Indonesia mengajarkanmu induksi dan deduksi. Meletakkan pokok masalah di awal atau akhir. Itu bagus, tetapi pada akhirnya menulis tidak seremeh itu. Namun juga tidak sulit. Ingin bisa menulis, ikuti terus blog ini. Setidak-tidaknya tulisanmu akan meningkat beberapa tingkat seperti punyaku. Atau jika kau anggap tulisanku buruk, setidaknya kau punya bahan untuk mengejek.

Mengejek juga perlu bahan bro. Namun pastikan ejekanmu tak membawamu ke dalam masalah besar. Atau jangan-jangan itu yang kau inginkan? Wow, jika demikian, kau akan menjadi penulis hebat.

Sekilas Tentang Menulis Sci-Fi

Indonesia darurat Sci-fi. Kreator lebih suka genre romantis yang pasaran.

Imajinasi Tentang Masa Depan

Sci-fi atau science fiction adalah sebuah genre yang berisi kisah imajinasi / fiksi namun melibatkan berbagai teori, teknologi maupun hal-hal yang berkaitan dengan sains.

Dari dulu, kisah sci-fi sangat digemari, khususnya di dunia barat. Mereka menganggap sci-fi adalah percobaan manusia melihat masa depan.

Saya sendiri benar-benar menikmati sci-fi, mulai dari yang klasik seperti cerita Jules Verne sampai epik serial MCU.

Sayangnya di Indonesia, karya sci-fi sangat kurang populer. Padahal ini bisa menjadi sarana untuk memasyarakatkan sains dan iptek. Bisa juga untuk menjadi stimulus bagi munculnya semangat menjadi insan ilmiah yang cerdas dan futuristik.

Ini sekaligus juga peluang bagi kamu yang ingin menjajal genre fiksi ilmiah. Mumpung belum banyak kompetitor.